Apa itu Metafisika?Oleh: Bagus Takwin
1. Pengertian umum
Dalam filsafat metafisika dimasukkan dalam bagian filsafat yang mengkaji tentang Ada (Being). Bidang kajian filsafat tentang ‘ada’ (being) dibagi dua menjadi 1) ontologi dan 2) metafisika. Ontologi mengkaji ‘ada’ yang keberadaannya tidak disangsikan lagi. Dalam ontologi kita berfilsafat tentang sesuatu yang keberadaannya dipersepsi secara fisik dan tertangkap oleh indra. Sedangkan metafisika mengkaji ‘ada’ yang masih disangsikan kehadirannya. Metafisika berhubungan dengan obyek-obyek yang tidak dapat dijangkau secara inderawi karena obyek itu melampaui sesuatu yang bersifat fisik. Secara fisik ‘ada’ itu tidak tampak namun oleh sebagian orang dianggap ada, misalnya jiwa, ilusi, eksistensi Tuhan, dan sebagainya.
2. Asal kata metafisika
Kata metafisika berasal dari kata tameta dan taphysika. Tameta berarti di balik atau dibelakang dan taphysika berarti sesuatu yang bersifat fisikal, dapat ditangkap bentuknya oleh indra. Berdasarkan asal katanya tersebut metafisika diartikan sebagai “kenyataan di balik fisika” atau kenyataan yang bentuknya tak terjangkau oleh indra”.
Selanjutnya pengertian ini bergeser menjadi suatu cabang filsafat yang mengkaji ‘ada’ yang masih disangsikan kehadirannya. Metafisika berhubungan dengan obyek-obyek yang tidak dapat dijangkau secara inderawi karena obyek itu melampaui sesuatu yang bersifat fisik. Secara fisik ‘ada’ itu tidak tampak namun oleh sebagian orang dianggap ada, misalnya jiwa, ilusi, eksistensi Tuhan, dan sebagainya.
Beberapa ahli filsafat kemudian memberi pengertian yang berbeda-beda terhadap metafisika. Salah satunya Whiteley (1977) yang mendefinisikan metafisika sebagai “The theory of the nature of the universe as a whole, and of those general prinsiples which are true of everything that exist.” Menurutnya metafisika adalah teori tentang sifat-sifat alamiah keberadaan dunia sebagai suatu keseluruhan, dan teori yang merupakan prinsip umum itu dapat menjelaskan secara benar segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.
Konsep lain yang erat kaitannya dengan metafisika adalah ontologi. Whiteley (1977) mendefinisikan ontologi sebagai “The theory of being and the kinds of beings.” Ontologi adalah teori tentang ‘ada’ dan jenis-jenis ‘ada’. Ada juga yang mengartikan ontologi sebagai bagian filsafat yang mengkaji ‘ada’ yang keberadaannya tidak disangsikan lagi. Dalam ontologi kita berfilsafat tentang sesuatu yang keberadaannya dipersepsi secara fisik dan tertangkap oleh indra.
3. Pengertian ontologi dan perkembangannya sejak Aristoteles hingga Kant
Telah terjadi pergeseran pandangan tentang ontologi sejak Aristoteles hingga Kant. Secara kasar ada 3 pandangan utama tentang ontologi sebagai bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being): menurut Aristoteles, Christian Wolff, dan Immanuel Kant. Aristoteles memandang ‘ada’ sebagai ‘ada’ (being qua being). Ia menganggap bahwa segala sesuatu ada dengan sendirinya terhampar di alam ini. Keberadaan segala sesuatu nyata dan berdiri sendiri serta tidak dipengaruhi oleh subyek. Manusia sebagai subyek dapat menangkap realita apa adanya, menangkap segala sesuatu yang ada pada alam melalui indra. Alam sudah mengatur dirinya, manusia tinggal menangkap ‘ada’ lalu mengabstraksikannya, dan menyusunnya sesuai dengan kategori-kategori yang alamiah. Adanya segala sesuatu berasal dari satu kausa prima, suatu penyebab utama yang menyebabkan terjadinya sesuatu di alam semesta. Aristoteles tidak menyebut pemikiran ini sebagai ontologi. Ia hanya menyampaikan pemikirannya tanpa mengklasifikasikanya. Pemikiran Aristoteles baru diklasifikasi secara sistematis oleh Andronikos. Ia mengkategorisasi pemikiran Aristoteles menjadi fisika, metafisika, logika, dan ilmu-ilmu praktek seperti poetika, retorika, dan politik.
Metafisika pada pemikiran Aristoteles masih bercampur dengan ontologi. Belum ada pembagian yang jelas terhadap kajian tentang ada. Baru oleh Christian Wolff dilakukan pembagian metafisika menjadi metafisika umum (general metaphysic) dan metafisika spesialis. Metafisika umum mengkaji ada sebagai ada, atau dapat dikatakan mengkaji ada sebagai kenyataan yang terindrai. Metafisika umum ini yang biasa dikenal dengan ontologi. Sedangkan metafisika spesialis mengkaji ‘ada’ dibalik gejala-gejala fisik, ‘ada’ yang tidak terindrai, misalnya tentang Tuhan, jiwa, dan asal usul alam semesta. Pembagian ini kemudian membagi dua pengkajian tentang ada: ontologi dan metafisika. Pembagian yang dilakukan oleh Christian Wolff kemudian diikuti munculnya perdebatan tentang obyek kajian pengetahuan dan filsafat antara mereka yang percaya kajian filsafat terhadap ada sebagai sesuatu yang terindrai dengan ada sebagai sesuatu yang dibalik gejala fisik.
Kant berpendapat bahwa metafisika umum secara epistemologis, sebagai sesuatu yang berkaitan dengan asal-usul pengetahuan. Ia membedakan dua ‘gejala’ yaitu noumenon (benda/sesuatu pada dirinya sendiri) dan fenoumenon (benda/sesuatu sebagaimana ia tampak oleh subyek). Ia menyatakan bahwa yang dapat dikaji hanya fenoumenon sedangkan noumenon tak dapat dikaji karena tak tertangkap oleh subyek. Manusia tidak dapat mengetahui benda pada dirinya sendiri (das ding an sich). Berangkat dari asumsi bahwa manusia tidak dapat menangkap ‘benda pada dirinya sendiri’ Kant menganggap metafisika spesialis yang berbicara tentang ‘ada’ sebagai ‘ada’ (being qua being) dan mengkaji sesuatu di balik yang fisik tidak dapat dipertahankan. Ia melihat proposisi-proposisi pandangan ontologis Aristoteles tidak sintetis a priori dan secara metodologis tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam metafisika umum Kant tidak membicarakan ada sebagai obyek tetapi bagaimana subyek mengetahui obyek dengan menggunakan kategori-kategori yang ada pada subyek.
Namun Kant tetap menganggap perlu adanya metafisika spesialis ini tetapi sebagai dasar moral atau dasar pengatahuan-pengetahuan tertentu, misalnya metafisika moral, metafisika ilmu, dan metafisika agama. Penerimaan terhadap metafisika ini didasarkan pada pertimbangan praktis, yaitu menjaga keteraturan pikiran dan tingkah laku manusia. Menurutnya metafisika spesialis berfungsi sebagai ide regulatif yang tidak memberi tambahan pengetahuan tetapi menjadi patokan atau dasar moral.
4. Beberapa Perkembangan Pemikiran Metafisika dan Ontologi
4.1. Pengertian ontologi menurut Heidegger
Heidegger membedakan ontologi dengan ontic. Pandangan ontologis Aristoteles yang didasari pandangan ‘ada’ sebagai ‘ada’ (being qua being) disebutnya ontic. Dalam ontic ini benda-benda dianggap dapat menampilkan diri apa adanya dan dapat tertangkap oleh indra manusia apa adanya. Heidegger menyebutnya sebagai ‘ada-di sana’ (seinde), sesuatu yang menampilkan diri apa adanya. Heidegger menolak pemikiran ontologis Aristoteles ini. Selain itu ia juga mengkritik berbagai pandangan metafisika yang dikemukakan berbagai tokoh sejak permulaan munculnya filsafat sampai pemikiran Descartes dan Nietzche. Menurut Heidegger, pandangan filsuf-filsuf metafisika sebelumnya yang menaruh perhatian besar pada ‘yang-ada’ (Being atau Sein) berusaha memberi makna terhadap ‘yang-ada’ tetapi dengan makna yang sangat umum, dengan konsep-konsep abstrak, yang kalau dikaji lebih teliti makna sesungguhnya kosong.
Dengan ontologi, Heidegger berusaha menemukan makna ‘yang-ada’ dan menurutnya inilah tugas filsafat. Tujuan filsafat menurut Heidegger adalah “membuat kebenaran ‘yang-ada’ berbicara.” Berkaitan dengan ini menurutnya ada 3 hal yang perlu ditegaskan: (I) pertanyaan tentang ‘yang-ada’ bukanlah pertanyaan tentang ‘yang-ada’ itu sendiri melainkan tentang maknanya; (2) makna yang dimaksud adalah maknanya yang kongkret; dan (3) walaupun istilah ‘yang-ada’ adalah kata benda namun ‘yang-ada’ pertama-tama harus dipahami dalam maknanya yang aktif dan dinamis.
Persoalan ‘yang-ada’ menjadi sentral dalam filsafat karena merupakan masalah kunci dalam memahami kebenaran dalam perspektifnya yang lebih luas. ‘Yang-ada’ dan kebenaran selalu berkaitan erat dan hanya melalui ‘yang-ada’ dapat dibentuk cara berpikir yang benar. Berpikir yang benar, menurut Heidegger, adalah “mendengarkan dengan hormat suara das Sein (‘yang-ada di sana’) bukan memaksakan kekuasaan pada das Sein.” Kita harus membiarkan pikiran dan das Sein berdialektika.
Untuk mendapatkan pengetahuan tentang makna yang ada, menurut Heidegger kita harus menyelidiki ‘yang-ada’ itu sendiri. Ternyata kita menemukan kita menjumpai diri kita sendiri sebagai modus ‘yang-ada’. Maka pertama-tama kita harus bertanya pada ‘ada-manusia’ atau Dasein. Alasannya menurut Heidegger: (1) manusia adalah satu-satunya ujud ‘yang-ada’yang mempunyai kemampuan bertanya tentang makna ‘yang-ada’. Hanya manusia yang memiliki kesadaran tentang keberadaaannya dan keberadaan benda-benda yang lain di dunia ini; (2) Dasein adalah mata rantai antara ‘ada-khusus’ dengan ‘yang-ada’. Melalui Dasein,’yang-ada’ nampak. Dasein dengan ‘yang-ada’ memiliki ketergantungan. Untuk dapat menjelaskan salah satunya, harus disertakan juga penjelasan yang satunya lagi; (3) ‘Yang-ada’ membutuhkan manusia sebab dalam diri manusia ‘yang-ada’ bukan saja implisit tetapi juga eksplisit.
Untuk dapat mempelajari ‘yang-ada’ melalui Dasein maka perlu dilakukan langkah metodologis awal yaitu membuka struktur eksistensial atau kategori-kategoti fundamental ujud manusia. Dari hasil analisis terhadap fenomena manusia, Heidegger menyimpulkan bahwa manusia adalah satu-satunya ‘ada-khusus’ yang memiliki kualifikasi sebagai pangkal tolak untuk meneliti ‘yang-ada’. Analis struktur eksistensi ini adalah ontologi fundamental, merupakan basis dari seluruh pengetahuan. Analisis Heidegger tentang ujud manusia menghasilkan beberapa tesis pokok, di antaranya:
1) Heidegger menyebut human existence sebagai Dasein yangs secara literer berarti ‘there’ of being. Istilah Dasein dimaksudkan sebagai ‘refleksi kesadaran’. Dasein tidak diartikan sebagai kesadaran atau sebagai obyek apabila orang berbicara tentang kesadaran. Dasein mendahului segala formulasi psikologis, antropologis, dan biologis. Dasein juga tidak diartikan sebagai subyek sebagai mana dalam pengertian Descartes atau Kant. Dasein juga merupakan modus ‘ada’ bagi manusia yang mengandung pengertian bahwa manusia selalu ada ‘di sana’, ada di tengah benda-benda lain. Manusia jatuh begitu saja ke dunia tanpa dapat menghindarinya.
2) Heidegger menemukan 3 aspek dalam eksistensi manusia, yaitu: faktisitas, eksistensialitas, dan ‘rasa kehilangan’ (forfeiture). Faktisitas artinya bahwa adanya manusia selalu berada di dunia. “Ada-dalam-dunia” (being in the world) selalu berarti ada bersama orang lain (being with other). Menurut Heidegger wujud manusia pada hakikatnya adalah wujud bersama. Heidegger menyatakan faktisitas manusia ini dengan kalimat: “Mensch-Sein ist Mit-sein” dan sebagai konsekuensinya dunia manusia adalah dunia bersama pula: “Mensch-Welt ist Mit-Welt”. Kebersamaan dengan orang lain merupakan ciri dari eksistensi manusia. Manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari modus kebersamaan sekaligus sebagai subyek yang menyadari.
Keterbukaan manusia terhadap dunia dan sesamanya didasarkan pada 3 hal yang penting: 1) Belfindlichkeit atau kepekaan; 2) verstehen atau memahami; dan 3) Rede atau berbicara. Kepekaan, kemampuan memahami, dan kemampuan berbicara yang ada pada manusia ini memungkinkan adanya perasaan (afeksi dan emosi) serta upaya penanggulangannya pada diri manusia. Dengan adanya kepekaan, manusia menyadari adanya suasana batin. Dari berbagai suasasana batin, yang dasar adalah ‘rasa cemas’ (angst). Rasa cemas ini muncul karena faktisitas manusia merupakan keberadaan menuju ke kematian (being toward death).
4.2. Penjelasan tentang metafisika deskriptif
Metafisika deskriptif dikembangkan berdasarkan pandangan Kant tentang metafisika spesialis. Menurutnya metafisika spesialis tidak memberi tambahan isi pengetahuan karena berada di luar fungsi ruang dan waktu. Tetapi metafisika ini diperlukan sebagai patokan atau dasar moral. Metafisika ini hanya berfungsi sebagai ide regulatif.
Pandangan Kant tentang metafisika tersebut lalu dikembangkan oleh Brian Carr yang setuju bahwa metafisika tidak bicara tentang benda pada dirinya sendiri, melainkan bicara tentang kategori-kategori yang sifatnya mengklasifikasikan dunia, misalnya: kausalitas, lebih banyak dan lebih sedikit. Oleh karena itu, metafisika hanya berperan untuk mendeskripsikan apa yang ditangkap subyek tanpa adanya tambahan pengetahuan tentang realitas di luar subyek. Secara singkat, menurut pandangan metafisika deskriptif, metafisika bukanlah kajian tentang sesuatu di balik fenomena tetapi membahas dunia dalam kategori.
Hal yang berperan penting dalam menangkap realitas adalah bahasa. Menurut Brian Carr dan beberapa tokoh matafisika deskriptif realitas tidak hadir dengan sendirinya secara langsung tanpa termediasi bahasa. Bahasa sifatnya terletak pada subyek. Bahasa memuat cakrawala subyek. Pandangan Carr tentang filsafat sejalan dengan pandangan para filsuf analitis yang menyatakan filsafat jangan berpretensi menjelaskan apa itu metafisika, melainkan hanya melakukan analisis bahasa.
Tokoh lain yang dapat digolongkan sebagai filsuf yang mengemukakan metafisika deskriptif adalah Hillary Putnam. Ia juga mengemukakan bahwa bahasa membentuk dunia dan merupakan skema konseptual untuk memahami dunia.





Posting Komentar