Apresiasi yang luarbiasa dirasakan oleh masyarakat pada momen pesta demokrasi (Pemilu), bahkan menjadi catatan tersendiri dalam benak mereka bahwa “saya di lirik, di perhatikan dan di sayangi layaknya kekasih idaman”. Kebutuhan pokok mulai dari sembako, jaminan keluarga sampai dengan pencitraan akan menjadi anugerah dadakan yang dirasakan si awam ini, sungguh aneh tapi nyata itulah faktanya yang menjadi barometer eksistensi masyarakat kecil. pengalaman singkat ini begitu manis bagi kaum kecil yang selalu di rasakan pada saat pesta rakyat berlangsung.
Segala upaya dan strategi yang di lakukan oleh si penarik hati (sang politisi), memberikan suntikan kepercayaan yang mutlak untuk menarik pelanggan basis. Rakyat menjadi penguasa diatas penguasa . Bahkan ,“teori kejujuran dalam kebohongan”pun di adopsi sebagai senjata pamungkas dalam berwacana persuasive, selain itu rakyat di peragungkan demi mejawab visi dan misi terselubung sang pesilat lidah. Upaya yang di lakukan tidak hanya sebatas itu, akan tetapi segala aspek dalam pemenangannya sebagai calon pelayan public banyak hal yang di lakukan , contoh kecilnya dulu tidak begitu erat dengan teman, saudara dan keluarganya , tiba-tiba pada momen tertentu (Pileg/Pemilukada) jangankan sanak keluarga dan teman lama, bahkan orang yang baru kenal pun di adopsi sebagai saudara terdekat dengan memberikan kepastian lewat silsilah keturunan, tapi menjadi pertanyaan kritis kita apakah perlakuan, ucapan dan sebagainya dalam bumbu politiknya akan kita rasakan di kemudian hari dan mampu direalisasikan untuk kepentingan rakyat atau sebaliknya ????
Dalam hal ini tidak hanya satu aspek yang di bahas, tapi bagai mana masalah yang perlu di sikapi dalam melihat realitas yang terjadi pada masyarakat, saat waktu itu mulai mendekati pesta rakyat dan perlu di pahami oleh kaum intelektual muda menjadi panduan teladan bagi masyarakat awam yang kurang memaknai politik itu seperti apa yang semestinya.
Definisi dari “Politik”
1.Ginsburg (1996) mendefinisikan politik sebagai "kontrol atas alat-alat produksi, reproduksi, konsumsi, dan akumulasi daya-daya material dan simbolis".
2.Proses ini tidak terbatas pada arena kekuasaan oleh negara. Dunia pendidikan menjadi contoh ideal proses politik sebab jaringan relasi sosial yang dimiliki berhubungan dengan kategori sumber-sumber material maupun nonmaterial itu.
3.Ketidak adilan atas distribusi sumber-sumer daya ini biasanya ditentukan oleh praksis politik dan corak relasi kekuasaan yang ada.
Kalau kita sekarang membiarkan kondisi politik Indonesia yang sedikit keluar dari koridor percaturan politik yang sebenarnya, langkah yang harus di utamakan ialah melakukan pendidikan dan upaya pemahaman politik yang bersih dari politik uang terhadap masyarakat . Dengan hal seperti ini bisa mengurangi kebodohan masyarakat dalam memahami hakikat politik yang sesuai dengan devinisinya. Dan kalaupun kontribusi pendidikan atau memberikan pemahaman politik kepada masyarakat tidak di implementasikan hal yang menyedihkan ini terus berlangsung, maka dapat diramalkan, bahwa kehidupan politik kita 10 tahun yang akan datang juga akan menyedihkan. Kelalain untuk melekukan investasi pendidikan pada waktu sekarang akan harus kita tebus dengan harga yang mahal di masa depan. Para politisi kita tidak menyadari, bahwa pendidikan selalu bersifat antisipatoris dan preparatoris; yaitu selalu mengacu ke masa depan dan selalu mempersiapkan generasi muda untuk kehidupan masa depan kita .
Dalam hal ini Pemerintah ataupun Mahasiswa , serta pemuda yang berintelektual berperan aktif dalam mengisi pemahaman politik yang sebenarnya sesuai landasan berpolitik.
(*Edy Irawan/Edon Pmii*)





Posting Komentar